Home / Ekonomi / Lifestyle / Teknologi

Minggu, 10 Maret 2024 - 21:58 WIB

Perkembangan AI dan Ancaman 2040

Kemunculan AI memicu kekhawatiran akan hilangnya lapangan pekerjaan. AI memang canggih, tapi bisakah meniru sentuhan manusia? (Ilustrasi: iStock/Moor Studio)

Kemunculan AI memicu kekhawatiran akan hilangnya lapangan pekerjaan. AI memang canggih, tapi bisakah meniru sentuhan manusia? (Ilustrasi: iStock/Moor Studio)

Seperti kebanyakan perawat di Asia Tenggara, Muhammad Asyraaf harus menanggung beban kerja berlebih akibat kurangnya tenaga kerja di industri kesehatan.

“Banyak sekali yang harus dilakukan perawat. Kami selalu berlarian… dan terus diburu waktu,” kata perawat senior berusia 25 tahun yang bekerja di sebuah rumah sakit di Singapura ini.

Data menunjukkan adanya kekurangan dokter dan perawat di Asia Tenggara. Misalnya di pulau Jawa, Indonesia, hanya ada sekitar 22 dokter spesialis untuk setiap 100.000 penduduk, seperti yang dikutip dari kantor berita Antara.

Sementara itu di Thailand, per tahun terdapat hingga 7.000 perawat yang mengundurkan diri dari rumah sakit pemerintah, meskipun ada tambahan 10.000 perawat lulusan baru setiap tahunnya.

Akibatnya, beban kerja para perawat tersisa yang masih bertahan di rumah sakit semakin besar.

Di saat inilah kecerdasan buatan atau AI memainkan peranan dalam meringankan pekerjaan mereka. Teknologi AI telah digunakan di banyak rumah sakit, untuk mengerjakan tugas administratif atau membantu pemeriksaan kesehatan.

Di sisi lain, perkembangan AI yang pesat juga memunculkan kekhawatiran: Apakah teknologi ini akan mencuri lahan pekerjaan manusia?

Bagi Asyraaf, jawabannya tidak. “AI tidak akan pernah bisa merebut pekerjaan kami, karena pekerjaan perawat butuh perasaan, butuh sentuhan manusia. Ini hal yang tidak akan pernah bisa dilakukan AI,” kata dia.

Muhammad Asyraaf telah bekerja sebagai perawat di unit bedah umum di sebuah rumah sakit di Singapura selama lebih dari tiga tahun. (Foto: Muhammad Asyraaf)

Pendapat ini juga disampaikan oleh para agen layanan call centre di Filipina saat menanggapi kekhawatiran bahwa AI akan menggantikan 1,6 juta pekerja di industri business process outsourcing (BPO) atau pengalihdayaan proses bisnis.

Saat ini, AI yang tersebar pada berbagai sektor kerja di dunia justru membantu meningkatkan produktivitas, bukan malah mengancamnya, kata Dr Pranpreya Sriwannawit Lundberg – Direktur Kemitraan Kebijakan Internasional di Kantor Pendidikan Tinggi Nasional, Dewan Kebijakan Sains, Penelitian dan Inovasi (NXPO) Thailand.

Namun dia memperingatkan, kondisi ini dapat berubah pada 2040 saat kemampuan AI sudah setara dengan manusia.

“Selama dua dekade ini, kita telah belajar bagaimana hidup dengan AI dan memanfaatkannya, jadi teknologi ini menguntungkan, bukannya mengendalikan kita,” kata Dr Lundberg.

AI meringankan pekerjaan perawat

Setelah lebih dari tiga tahun bekerja sebagai perawat di unit bedah umum, kecintaan Asyraaf kepada bidang keperawatan perlahan memudar.

Alasannya, waktu yang sebaiknya dihabiskan untuk merawat pasien kini terbuang untuk mengurus pekerjaan administratif, seperti menyusun catatan serah terima pergantian jam kerja dan menulis penilaian risiko pasien.

“Terkadang sudah tak ada lagi perasaan tulus ketika bekerja, karena kami serba diburu-buru. Selalu tidak ada waktu bagi kami untuk duduk dan berbincang dengan pasien. Seakan hal itu bukan lagi jadi tugas perawat,” kata Asyraaf.

Dia berharap, AI nantinya dapat mengambil alih seluruh pekerjaan administratif dan tugas rutin. Dengan begitu, perawat seperti dirinya bisa lebih banyak membantu pasien secara emosional dan psikologis.

Banyak piranti teknologi AI yang dikembangkan bagi industri kesehatan diperuntukkan mengerjakan “tugas-tugas yang menjemukan” agar meringankan beban perawat, kata dr. Feng Mengling, asisten profesor di Saw Swee Hock School of Public Health, Singapura.

“Ini agar mereka bisa punya lebih banyak waktu memberikan perawatan yang personal kepada pasien,” kata dia.

Rumah sakit lainnya di Asia Tenggara, seperti Rumah Sakit Siloam Sri Wijaya di Palembang, Indonesia, dan National Kidney Transplant Institute (NKTI) di Manila, Filipina, telah menggunakan asisten chat AI untuk operasional sehari-hari.

Pesan WhatsApp dari asisten chatting Bot MD yang didukung teknologi AI. (Foto: Bot MD)

Dr. Romina Danguilan, Wakil Direktur Eksekutif untuk Layanan Medis di NKTI, mengatakan bahwa AI ini telah menggantikan sekitar 80 persen pekerjaan di divisi cuci darah rumah sakit dalam menghubungi pasien dan tindak lanjutnya.

“(Dalam pemeriksaan mingguan), bot ditugaskan menanyakan kepada pasien soal kondisi pasien dan apa yang mereka rasakan. Banyak karyawan yang terbantu sekarang.

“Luar biasanya, para personel medis masih tetap bisa mengevaluasi pasien dari jawaban-jawaban mereka (via AI) dan mengambil tindakan jika diperlukan,” kata dr. Danguilan.

Dr. Romina Danguilan, Wakil Direktur Eksekutif untuk Layanan Medis di National Kidney Transplantation Institute (NKTI) di Manila, Filipina. (Foto: Romina Danguilan)

Sementara di Rumah Sakit Siloam Sri Wijaya, asisten chat AI bekerja dengan mengirimkan pengingat bagi orang tua tentang jadwal vaksinasi bayi mereka.

“Ada banyak bayi yang lahir di rumah sakit ini. Mungkin lebih dari 100 bayi per bulan, jadi sulit untuk memantau mereka satu per satu,” kata direktur utama rumah sakit tersebut, dr. Bona Fernando.

“Di Indonesia, kami punya jadwal vaksinasi bayi yang ketat setiap bulannya sampai mereka berusia dua tahun. Jadi kami tinggal menyalin kalender itu dan memasukkan ke dalam AI, yang kemudian secara otomatis akan mengirimkan pengingat.”

Rumah Sakit Siloam Sri Wijaya di Palembang, Indonesia. (Foto: Bona Fernando)

Asisten chat AI yang digunakan dua rumah sakit tersebut adalah buatan perusahaan asal Singapura, Bot MD. Teknologi ini juga digunakan di berbagai rumah sakit swasta dan pemerintah besar serta klinik di seluruh dunia, termasuk oleh Singapore General Hospital, Rumah Sakit Siloam, dan Philippines General Hospital.

Piranti teknologi AI lainnya bernama FxMammo – diciptakan oleh perusahaan Singapura FathomX – diciptakan untuk mengatasi kurangnya ahli radiologi di kawasan dan meringankan pekerjaan mereka.

FxMammo menggunakan AI untuk mendeteksi kanker payudara berdasarkan citra mamografi. “AI kami membaca (hasil pemindaian mamografi) dan memberi tahu Anda… kemungkinan adanya kanker dan di mana tepatnya kanker tersebut berada,” ujar CEO FathomX, Stephen Lim.

Dia menunjukkan bahwa AI sangat dibutuhkan oleh para ahli radiologi, terutama dalam menangani kanker payudara.

“Sebagai contoh, untuk setiap 100.000 wanita, Singapura memiliki 6,5 ahli radiologi sementara Malaysia 1,9 ahli radiologi.

“Angka tersebut menunjukkan bahwa jumlah ahli radiologi yang ada tidak mencukupi. Kita butuh bantuan AI; teknologi ini tidak dimaksudkan untuk merebut pekerjaan para ahli radiologi,” kata Lim.

Dengan bantuan FxMammo untuk menyaring citra mamogram, para ahli radiologi dapat menghemat rata-rata hingga seperlima waktu kerja mereka. Penghematan waktu ini membuat mereka bisa lebih fokus dalam mendeteksi kanker payudara.

Tampilan antarmuka FxMammo. (Foto: FathomX)

AI tidak akan merebut pekerjaan perawat

AI memang telah mengambil alih beberapa tugas para pekerja medis, namun para ahli kepada CNA mengatakan teknologi ini tidak akan mengancam pekerjaan mereka.

“Jumlah pekerja bidang medis terus menurun di seluruh dunia. Ini fenomena yang terjadi, bukannya mereka yang kehilangan pekerjaan,” kata dr. Feng dari Saw Swee Hock School of Public Health.

Dia mengatakan, pandemi COVID-19 telah menunjukkan adanya kekurangan jumlah tenaga medis. “Bahkan Singapura, negara yang sangat makmur, tidak bisa melatih atau merekrut perawat dan dokter yang cukup dalam krisis tersebut.”

Dalam 10 tahun ke depan, kata dr. Feng, kebutuhan akan ahli radiologi akan semakin bertambah di kawasan Asia Tenggara. Hal ini terjadi karena meningkatnya jumlah penduduk usia tua.

“Saya bekerja dengan banyak ahli radiologi dan mereka khawatir beban kerja akan bertambah drastis dan tidak akan mampu menanganinya lagi.”

“Akan ada banyak permintaan untuk mereka (di masa depan). Saya tidak melihat mereka akan kehilangan pekerjaan,” kata dia.

Lim, CEO FathomX, mengatakan AI memang bisa mengerjakan berbagai tugas dasar, namun teknologi ini tidak akan mampu melampaui pengetahuan para pekerja medis, kecintaan mereka akan pekerjaan, pandangan dan kemampuan berpikir kritis – semua hal yang penting dimiliki oleh perawat dan dokter.

Hal sama disampaikan Koh sebagai pendiri Bot MD yang mengatakan AI tidak akan pernah menggantikan pekerjaan dokter.

“Misalnya, membaca bahasa tubuh pasien dan pertanda samar lainnya – hal ini sulit dipelajari oleh komputer, tapi dokter bisa mengenalinya dengan cepat.

“Ada banyak contoh ketika pasien lebih suka berbicara kepada dokter atau perawat manusia, karena memberikan rasa nyaman atau keyakinan akan diagnosis dan perawatan yang mereka dapat,” kata dia kepada CNA.

Bagaimana dengan pekerja call centre?

AI mungkin tidak bisa menggantikan pekerja medis, namun bagaimana dengan pekerja di industri lainnya.

Di Filipina, perkembangan AI generatif memicu kekhawatiran tergantikannya para pekerja call centre dengan chatbot AI.

AI generatif telah mengatasi masalah yang sebelumnya dihadapi, seperti kurangnya empati dari chatbot otomatis.

Mei tahun lalu, senator di Filipina, Imee Marcos, menyerukan penyelidikan atas penggunaan AI dan ancamannya terhadap pekerja, terutama di industri BPO dan manufaktur.

Marcos mengutip studi Oxford Economics dan Cisco yang menemukan bahwa automasi digital akan membuat 1,1 juta pekerjaan di Filipina hilang pada 2028.

Meski ada kekhawatiran tersebut, para pekerja call centre kepada CNA mengaku tidak cemas AI dapat mengambil alih pekerjaan mereka, setidaknya untuk dalam waktu dekat ini.

Salah satunya Andie, 33, yang telah bekerja sebagai agen call centre di Filipina selama 12 tahun. Menurut dia, para pelanggan masih memilih berbicara dengan agen manusia ketimbang chatbot AI, terutama untuk masalah yang rumit seperti masalah tagihan atau hal teknis.

“Mereka ingin penjelasan detail tentang tagihan atau mereka ingin mendapatkan panduan untuk masalah teknis tertentu,” kata Andie.

Andie telah bekerja sebagai agen call center di Filipina selama 12 tahun. (Foto: Andie)

Mereka yang ingin berkiprah di industri BPO juga tidak cemas dengan kehadiran AI.

“Yang saya tahu, pekerjaan akan menjadi lebih mudah jika dilakukan oleh chatbot atau teknologi AI,” kata Andeline Panerio, 19, yang sudah mencari kerja sejak Agustus tahun lalu.

Haptik, perusahaan chatbot AI asal India, mengatakan teknologi AI di pasar BPO “adalah pelengkap, bukan pengganti”.

“Teknologi AI di Haptik dirancang untuk bekerja bersama manusia dengan melakukan tugas-tugas rutin, sehingga memungkinkan manusia untuk fokus pada tugas yang lebih rumit, seperti interaksi yang memerlukan sentuhan personal,” kata direktur Haptik, Nameer Khan.

Khan juga mengatakan peluang terbuka lebar untuk kolaborasi antara call centre BPO dan teknologi asistensi AI seperti Haptik.

Salah satunya, kata AI, adalah menggunakan AI generatif untuk menginterpretasikan pesan, nada dan suara pelanggan sehingga sentimen pelanggan dapat dianalisa secara real-time dan membantu pekerja dalam mengidentifikasi kebutuhan mereka.

Perusahaan outsourcing call centre juga banyak yang telah menggunakan AI dalam pekerjaan mereka. Di antaranya adalah Concentrix, salah satu perusahaan BPO terbesar di Filipina.

Para pekerja call centre di Filipina. (Foto: Asosiasi Pusat Kontak Filipina)

Amit Jagga, wakil presiden senior dan country leader Concentrix Filipina, mengatakan kepada CNA bahwa pihaknya menggunakan AI untuk meningkatkan produktivitas dan akurasi saran serta menciptakan pengalaman yang lebih membekas dan personal bagi pelanggan.

Misalnya, kata Jagga, AI dapat membantu para pekerja call centre yang kesulitan memberikan saran soal cara kerja sebuah produk.

“Kami mengembangkan aplikasi generatif AI hanya dalam tiga minggu yang bisa membantu para pekerja menjawab pertanyaan-pertanyaan untuk masalah teknis.

“Produktivitas pekerja meningkat 65 persen dan waktu menjawab pertanyaan dipangkas empat menit, menghasilkan pengalaman yang lebih baik bagi pelanggan serta menghemat biaya,” kata dia.

Ketika ditanya apakah Concentrix mengurangi perekrutan beberapa tahun terakhir ini karena penggunaan chatbot AI, Jagga mengatakan bahwa hal itu tidak terjadi. Bahkan kata dia, Concentrix di Filipina terus berkembang.

“Sentuhan manusia masih tidak tergantikan, terutama untuk situasi yang rumit dan sensitif secara emosional. Kombinasi AI dan sentuhan manusia menghasilkan pengalaman yang luar biasa bagi pelanggan,” kata dia.

John Maczynski, co-CEO perusahaan penasihat BPO PITON Global, mengatakan kepada CNA bahwa pekerja manusia tetap tak ternilai karena mereka dapat memberikan empati, sesuatu yang tidak dapat dilakukan oleh AI.

“Kemampuan manusia untuk memahami dan benar-benar merasakan perasaan orang lain adalah sesuatu yang belum mampu dicapai oleh AI.

“Dalam banyak hal, AI mungkin berkembang lebih baik, tapi ketika menyangkut emosi manusia yang kompleks dan sering kali tak terduga, perjalanannya masih panjang,” kata dia.

Ancaman AI pada 2040

Untuk saat ini, AI memang belum menjadi ancaman bagi nasib pekerja – setidaknya yang berada di bidang kesehatan dan BPO di Asia Tenggara.

Tapi para ahli memperingatkan, situasi bisa berubah pada 2040.

Menurut Dr Lundberg, AI yang ada saat ini masih dalam tahap pertama – yang dikenal sebagai AI lemah – ketika manusia masih lebih logis ketimbang AI. Di tahapan ini, AI mampu meningkatkan pekerjaan manusia dan bertindak sebagai pembantu mereka, kata Lundberg lagi.

Namun di tahapan kedua nantinya – dikenal sebagai AI kuat – AI akan memiliki tingkat kognisi manusia sehingga mengancam lapangan pekerjaan yang ada.

“Ada prediksi yang sangat kuat bahwa tahapan kedua ini akan terjadi dalam dua dekade ke depan,” kata Dr Lundberg.

Seiring dengan perkembangan AI yang pesat, upaya membuat regulasinya tengah digodok. Di tingkat nasional dan global, berbagai langkah diambil untuk menghindari risiko namun tetap bisa menangguk untung dari keberadaan AI.

Dr Lundberg mengatakan bahwa idealnya AI memang harus diregulasi, namun pertumbuhan teknologi ini lebih cepat dari pada proses pembentukan undang-undangnya.

“Regulasi harusnya beriringan dengan perkembangan teknologi, tapi sektor swasta yang mengembangkan teknologi ini tidak akan mau menunggu.

“Apa yang bisa dilakukan adalah mempercepat kerja pemerintah (membuat regulasi agar mengejar swasta). Kita tidak bisa memperlambat swasta, itu bertentangan dengan perkembangan,” kata Lundberg.

Untuk bisa selamat dari fase “AI kuat”, para pekerja harus terus meningkatkan dan mempelajari kembali kemampuan mereka serta melek akan teknologi digital dasar. Beberapa negara telah menyadari hal ini dan terus membekali pekerja mereka dengan tambahan pengetahuan.

Salah satunya Singapura yang meluncurkan versi terbaru dari strategi AI nasional mereka bulan lalu. Di antara rencana Singapura adalah meningkatkan hingga tiga kali lipat para ahli AI, dan menambah investasi pada pendidikan dan pelatihan pekerja untuk bidang ini.

Di Thailand, pemerintah juga telah memberlakukan subsidi pajak bagi perusahaan-perusahaan yang menawarkan pelatihan-pelatihan serupa.

Co-CEO PITON Global, Maczynski sangat mendukung jika pemerintah turun tangan dalam membentuk para tenaga kerja yang melek teknologi di Filipina.

“Inisiatif seperti program pelatihan teknologi, memotivasi perusahaan untuk menjaga keseimbangan antara AI dan staf manusia, dan kebijakan yang mendorong pembelajaran berkelanjutan dan pengembangan keterampilan sangat penting,” kata dia.

Sementara itu, Dr Feng mencatat bahwa banyak aplikasi AI, seperti ChatGPT, yang mudah diakses dan harus digunakan oleh para pekerja untuk membiasakan diri dengan AI.

“Banyak solusi yang gratis. Yang lainnya mungkin (berbiaya) sekitar S$20 per bulan, jadi Anda bisa membayar… dan mencobanya selama sebulan untuk bisa mengetahui dan merasakan langsung bagaimana AI berperilaku, bagaimana rasanya saat AI melakukan sesuatu dengan benar atau salah, dan betapa mengagumkannya teknologi ini.

“Kita merasa takut dengan hal-hal yang belum diketahui, tapi begitu berkenalan dengan teknologi ini, maka ketakutan Anda akan hilang,” kata Dr Feng.

Dia juga sangat merekomendasikan agar teknologi AI menjadi bagian dari kurikulum reguler di sekolah-sekolah.

“Beberapa pelatihan diperlukan, tetapi tidak sampai pada tingkatan di mana mereka tiba-tiba menjadi programmer ┬ámulai mengembangkan AI.

“Saya memperkirakan pada saat lulus, teknologi ini akan menjadi bagian dari kehidupan mereka,” kata Dr Feng.

“Ini akan menjadi teknologi umum yang akan mereka gunakan dalam banyak hal.”

Sumber: CNA(channelnewsasia.com)/da(ih)

Share :

Baca Juga

Nasional

Aplikasi MyTelkomsel Jadi SuperApp, Bisa Bayar Tol Tanpa Tap Kartu Lagi!

Ekonomi

Tembus Ratusan Triliun, Segini Uang Negara Habis Buat Gaji-Tukin PNS

Blockchain

Hubungan Antara Blockchain dan AI

Nasional

Begini Cara Memindahkan File Menggunakan Google Takeout

Lifestyle

Cara Tulis Status WhatsApp dengan Huruf Arab, Jepang, & Mandarin

Nasional

Mengenal Ransomware Brain Cipher yang Menyerang PDN

Nasional

Tingkatkan Keamanan Siber, Pemerintah Didorong Manfaatkan AI

Daerah

Tingkatkan Kompetensi Kelompok Ekoeduwisata Paya Nie, PT PIM adakan Sharing Knowledge